SAMARINDA — Proyeksi pertumbuhan 2,5-3,5 persen itu turun dari capaian tahun sebelumnya. Bank Indonesia Kaltim menyebut fase penyesuaian lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebagai pemicu utama moderasi tersebut.
Penyesuaian itu berkaitan dengan dinamika RKAB, perkembangan volume produksi dan penjualan batu bara, serta permintaan dari negara mitra dagang utama. "Moderasi tersebut dipengaruhi utamanya oleh LU (Lapangan Usaha) Pertambangan dan Penggalian yang masih berada dalam fase penyesuaian sejalan dengan dinamika RKAB, perkembangan volume produksi dan penjualan batu bara, serta permintaan dari negara mitra dagang utama," tulis BI Kaltim dalam laporan tersebut.
Ekonomi Kaltim Triwulan II 2026 Tumbuh 3,35 Persen
Laporan yang sama mencatat ekonomi Kaltim pada triwulan II 2026 tumbuh 3,35 persen (yoy). Angka itu lebih tinggi dibanding triwulan I 2026 yang sebesar 2,99 persen (yoy).
Dari sisi harga, inflasi Kaltim pada triwulan II 2026 tercatat 3,20 persen (yoy). Realisasi itu menurun dibanding triwulan I 2026 yang sebesar 3,31 persen (yoy) dan tetap terjaga dalam rentang sasaran inflasi nasional.
Industri Pengolahan dan Perdagangan Jadi Penopang
Sepanjang 2026, lapangan usaha industri pengolahan diprakirakan tetap tumbuh positif meski lebih moderat. Faktor basis yang tinggi pada tahun sebelumnya menjadi penyebabnya.
Sementara lapangan usaha perdagangan tetap didukung aktivitas konsumsi masyarakat. Perlambatan yang lebih dalam diprakirakan tertahan oleh realisasi investasi swasta, berlanjutnya proyek hilirisasi, serta konsumsi masyarakat yang tetap tumbuh positif.
Perkembangan itu diprakirakan menopang kinerja lapangan usaha konstruksi dan industri pengolahan. "Peluang peningkatan produksi batu bara pada periode selanjutnya juga terbuka sejalan dengan proses relaksasi RKAB yang diprakirakan dapat menopang perbaikan LU Pertambangan dan sektor pendukungnya," ungkap BI Kaltim.
Inflasi 2026 Diprakirakan di Koridor 2,5±1 Persen
Di sisi harga, inflasi tahunan Kaltim pada 2026 diprakirakan tetap berada dalam koridor target 2,5±1 persen (yoy). Proyeksi itu lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.
Tekanan inflasi diprakirakan tetap terkendali berkat penguatan sinergi TPID. Sejumlah langkah yang disiapkan mencakup Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), Gerakan Pangan Murah (GPM), optimalisasi SPHP, penguatan kerja sama antardaerah, serta pemantauan harga dan pasokan secara berkala.
Dinamika ekonomi global dan domestik masih diwarnai ketidakpastian pasar keuangan global, tensi geopolitik yang berlanjut, serta divergensi pertumbuhan antarnegara. Kondisi itu turut memengaruhi perekonomian hingga ke daerah, termasuk Kaltim.