Rupiah Menguat ke Rp17.798 per Dolar AS, Indeks Dolar Tersungkur ke Level Terendah 11 Minggu

Rupiah Menguat ke Rp17.798 per Dolar AS, Indeks Dolar Tersungkur ke Level Terendah 11 Minggu
Rupiah ditutup menguat 0,16 persen ke level Rp17.798 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda naik 0,16 persen dibandingkan posisi pekan lalu yang berada di Rp17.866 per dolar AS. Level ini sekaligus menandai penguatan kedua kalinya secara beruntun setelah sebelumnya rupiah juga ditutup di zona hijau pada akhir pekan.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS menjadi katalis utama pergerakan hari ini. "Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, dengan indeks dolar AS melemah ke level terendah dalam 11 minggu menyusul serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah," ujarnya kepada Suara.com.

Dolar Taiwan dan Ringgit Malaysia Pimpin Penguatan Mata Uang Asia

Sentimen positif tidak hanya dinikmati rupiah. Mayoritas mata uang kawasan Asia tercatat menghijau terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini, mencerminkan tekanan luas pada mata uang Paman Sam di pasar global.

  • Dolar Taiwan: menguat 0,61 persen (penguatan terbesar di Asia)
  • Ringgit Malaysia: naik 0,61 persen
  • Baht Thailand: terangkat 0,55 persen
  • Won Korea Selatan: menanjak 0,28 persen
  • Yen Jepang: terkerek 0,23 persen
  • Dolar Singapura: terapresiasi 0,22 persen
  • Yuan China: naik 0,08 persen
  • Dolar Hong Kong: menguat tipis 0,03 persen

Rupee India Jadi Satu-Satunya Mata Uang yang Tertekan Signifikan

Di tengah lautan penguatan, rupee India justru menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,19 persen. Peso Filipina juga ditutup melemah tipis 0,05 persen, menjadi dua pengecualian di antara mata uang utama kawasan.

Pelemahan data ekonomi AS yang dimaksud mencakup indikator ketenagakerjaan dan aktivitas manufaktur yang dirilis sepanjang pekan lalu. Data yang lebih lemah dari konsensus ini memperkuat spekulasi pasar bahwa Federal Reserve akan mulai melonggarkan kebijakan moneternya lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Bagi pelaku pasar domestik, penguatan rupiah ini memberikan ruang napas setelah tekanan depresiasi yang cukup intens sepanjang semester pertama 2026. Namun demikian, volatilitas masih berpotensi terjadi mengingat pasar akan mencermati pidato pejabat The Fed pekan ini untuk mencari petunjuk arah suku bunga selanjutnya.

Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index