Inovasi Bank Indonesia Luncurkan Buku Bisnis Pertanian Berkelanjutan Biochar

Selasa, 10 Februari 2026 | 08:35:37 WIB
Inovasi Bank Indonesia Luncurkan Buku Bisnis Pertanian Berkelanjutan Biochar

JAKARTA - Stabilitas ekonomi nasional sering kali berakar dari ketangguhan sektor pangannya. Menyadari hal tersebut, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah progresif dengan memperkenalkan sebuah panduan komprehensif yang memadukan teknologi ramah lingkungan dengan strategi ekonomi. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran Buku Pedoman Implementasi Model Bisnis Pertanian Berkelanjutan Berbasis Teknologi Climate Smart Agriculture (CSA)–Biochar yang digelar di Semarang pada Senin.

Langkah kolaboratif ini melibatkan sinergi lintas sektoral yang kuat, mempertemukan otoritas moneter, regulator kebijakan pangan, hingga akademisi. Dengan dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan Universitas Diponegoro (Undip), buku ini diproyeksikan menjadi kompas baru bagi para pelaku usaha tani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian ekstrem, sekaligus memastikan kedaulatan pangan tetap terjaga di masa depan.

Panduan Praktis Teknologi Biochar untuk Revitalisasi Lahan

Peluncuran buku pedoman ini dilakukan secara resmi oleh Direktur Departemen Ekonomi-Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Kurniawan Agung. Dalam sambutannya, Kurniawan menekankan bahwa publikasi ini bukan sekadar dokumen teknis, melainkan sebuah panduan aplikatif yang dirancang untuk seluruh pemangku kepentingan. Fokus utamanya adalah bagaimana mengimplementasikan pertanian berkelanjutan yang berbasis pada teknologi CSA–Biochar secara luas dan efektif.

Secara teknis, buku pedoman ini membedah penerapan biochar, sebuah material padat yang kaya akan karbon hasil dari proses pirolisis limbah biomassa. Pemanfaatan material ini menjadi kunci dalam memperbaiki kualitas fisik dan kimia tanah yang selama ini mungkin telah jenuh akibat penggunaan bahan kimia berlebih. "Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan kesuburan tanah, efisiensi penggunaan pupuk dan air, menurunkan emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan produktivitas tanaman padi," papar Kurniawan Agung menjelaskan keunggulan dari inovasi hijau tersebut.

Keberhasilan Uji Coba Grobogan dan Peningkatan Produktivitas Padi

Optimisme Bank Indonesia terhadap teknologi ini bukan tanpa dasar. Sejak tahun 2025, kolaborasi pengembangan model bisnis berbasis CSA–biochar telah melewati fase percontohan atau pilot project di wilayah Grobogan, Jawa Tengah. Hasil dari lapangan menunjukkan data yang menggembirakan bagi ketahanan pangan nasional. Implementasi teknologi ini terbukti mampu mendongkrak produktivitas tanaman padi hingga sebesar 6,3 persen.

Selain angka pertumbuhan produksi yang signifikan, penerapan biochar di Grobogan juga memberikan manfaat jangka panjang berupa perbaikan struktur tanah. Efisiensi penggunaan input pertanian, seperti pengurangan kebutuhan pupuk kimia, menjadi nilai tambah ekonomi bagi para petani. Hal ini membuktikan bahwa keberlanjutan lingkungan dan keuntungan ekonomi dapat berjalan beriringan jika didukung oleh inovasi teknologi yang tepat sasaran.

Korelasi Ketahanan Pangan dengan Stabilitas Ekonomi dan Inflasi

Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Andi Riena Sari, menyoroti urgensi program ini dari kacamata stabilitas ekonomi makro. Menurutnya, stabilitas harga pangan memiliki kaitan yang sangat erat dengan angka inflasi dan daya beli masyarakat luas. Ketika harga pangan bergejolak akibat kegagalan panen atau rusaknya lahan, hal tersebut akan langsung berdampak pada kesejahteraan warga di tingkat akar rumput.

Oleh karena itu, peluncuran buku ini dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat sinergi lintas sektoral. Andi Riena menegaskan bahwa keterlibatan aktif kelompok tani dan pelaku usaha sangat krusial. "Sinergi lintas sektor dinilai krusial agar teknologi biochar dan inovasi hijau lainnya benar-benar diterapkan di lapangan," tegasnya. Melalui panduan praktis ini, diharapkan inovasi hijau tidak hanya berhenti di level diskusi akademik, melainkan menjadi praktik harian yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus menciptakan pertanian yang produktif bagi generasi mendatang.

Strategi Menghadapi Keterbatasan Lahan dan Perubahan Iklim

Dukungan serupa datang dari pemerintah pusat. Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan Kemenko Pangan, Kus Prisetiahadi, menilai bahwa penerbitan pedoman ini adalah langkah strategis di tengah ancaman penyusutan lahan produktif dan ketidakpastian iklim. Penggunaan teknologi hijau seperti biochar, bersama dengan inovasi lainnya seperti biosalin dan biosilus, menjadi instrumen penting untuk memulihkan kembali potensi lahan yang sebelumnya dianggap tidak produktif.

Menurut Kus Prisetiahadi, inovasi-inovasi ini adalah kunci untuk memperluas cakrawala sektor manufaktur pangan nasional. "Semoga langkah yang dimulai dari Jawa Tengah ini memberikan dampak nyata bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani Indonesia," ungkapnya penuh harap. Transformasi menuju pertanian berbasis teknologi ini diharapkan dapat menjadi standar baru bagi seluruh daerah di Indonesia, menciptakan sektor agraris yang lebih tangguh, efisien, dan ramah lingkungan di tahun 2026 ini.

Harapan untuk Ekosistem Pertanian Berkelanjutan di Masa Depan

Kehadiran Buku Pedoman CSA–Biochar menandai era baru di mana kebijakan moneter dan sektor riil berjalan selaras demi kepentingan publik. Dengan transparansi data dan panduan teknis yang jelas, hambatan dalam adopsi teknologi oleh petani tradisional diharapkan dapat terkikis. Bank Indonesia bersama para mitra berkomitmen untuk terus memantau efektivitas penerapan teknologi ini di berbagai wilayah lainnya di Indonesia.

Pada akhirnya, visi besar dari program ini adalah menciptakan kedaulatan pangan yang tidak hanya mengejar kuantitas hasil panen, tetapi juga menjaga kesehatan bumi. Dengan tanah yang subur dan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin dalam praktik pertanian berkelanjutan secara global. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan petani menjadi modal berharga untuk memastikan setiap butir nasi yang dikonsumsi masyarakat berasal dari tanah yang dikelola dengan bijak dan berkelanjutan.

Terkini