JAKARTA - Kondisi transportasi publik andalan warga komuter, KRL Jabodetabek, kini tengah berada di persimpangan krusial antara keandalan armada dan ledakan jumlah penumpang. Di tengah tuntutan layanan yang semakin tinggi, terungkap fakta bahwa tulang punggung transportasi megapolitan ini masih sangat bergantung pada sarana yang telah dimakan usia. Jika langkah strategis pengadaan tidak segera dieksekusi, kenyamanan penumpang di masa depan diprediksi akan berada dalam ancaman serius.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, membeberkan data yang mencengangkan mengenai profil armada KRL saat ini. Tercatat sebanyak 908 unit gerbong yang saat ini melayani jutaan warga setiap harinya sudah memasuki usia uzur, yakni berkisar antara 34 hingga 41 tahun.
Dominasi Armada Impor Bekas Asal Jepang
Angka 908 unit armada tua tersebut bukanlah jumlah yang sedikit. Bobby merinci bahwa mayoritas dari kereta-kereta tersebut merupakan hasil pengadaan barang bekas dari Jepang yang dilakukan di masa lalu. Secata mendetail, terdapat 780 unit yang berasal dari perusahaan JR East, sementara 128 unit lainnya merupakan hasil impor kereta bekas dari Tokyo Metro.
"KRL Jabodetabek pada saat ini, itu ada yang berumur 34 sampai 41 tahun, itu dulunya kita impor dari kereta bekas dari JR East, ada sebanyak 780 unit. Dan kemudian ada kita impor kereta bekas juga dari Tokyo Metro, itu sebanyak 128 unit," jelas Bobby di hadapan para anggota dewan.
Ketergantungan pada armada lawas ini mulai diimbangi dengan kehadiran sarana yang lebih segar. Saat ini, KAI telah mulai mengoperasikan armada baru hasil kerja sama dengan China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) Sifang sebanyak 132 unit atau setara 11 rangkaian (trainset). Selain itu, produk dalam negeri buatan PT Industri Kereta Api (INKA) juga sudah mulai memperkuat layanan dengan total 48 unit atau 4 rangkaian.
Ancaman Kepadatan Penumpang Hingga 630 Persen
Persoalan armada tua ini bukan sekadar masalah estetika atau teknologi, melainkan masalah kapasitas angkut yang sangat vital. Bobby Rasyidin memaparkan sebuah proyeksi yang mengkhawatirkan mengenai masa depan layanan komuter di Jakarta dan sekitarnya. Jika KAI tidak melakukan pengadaan sarana baru secara masif, maka pada tahun 2030 akan terjadi lonjakan kepadatan penumpang hingga 630 persen.
Namun, apabila rencana pengadaan sarana baru berjalan sesuai jadwal, tingkat kepadatan penumpang diharapkan dapat ditekan secara signifikan hingga hanya menyentuh angka 156 persen. Perbandingan ini menunjukkan betapa krusialnya penambahan gerbong baru bagi stabilitas transportasi ibu kota.
Saat ini saja, situasi di jam sibuk (peak hour) sudah tergolong sangat padat. Bobby memberikan gambaran matematis mengenai kondisi di dalam gerbong saat ini. Satu gerbong berukuran sekitar 3x20 meter atau 60 meter persegi kini dijejali oleh sekitar 300 orang pada jam sibuk. "Kalau dibagi dengan 300 berarti 1 meter persegi itu ditempati oleh 5 orang pada saat ini," tuturnya, menggambarkan betapa terbatasnya ruang gerak bagi setiap penumpang.
Target Operasional KRL Buatan INKA Sebelum Juli 2026
Sebagai bagian dari solusi jangka menengah, PT KAI kini terus mengawal proses produksi armada di dalam negeri. Bobby menargetkan sisa rangkaian KRL buatan INKA dapat mulai mengaspal untuk melayani warga Jabodetabek sebelum bulan Juli 2026. Rangkaian tersebut merupakan bagian dari total pesanan 16 trainset kepada pabrikan kereta api yang berbasis di Madiun tersebut.
Hingga saat ini, perkembangan pengadaan menunjukkan kemajuan yang stabil. Empat rangkaian awal sudah resmi beroperasi secara penuh. Sementara itu, satu rangkaian tambahan telah tiba dan diterima oleh PT KAI Commuter sejak Desember lalu, namun belum bisa mengangkut penumpang karena masih harus melewati serangkaian tahap pengujian teknis yang ketat.
"Train set 1, 2, 3, dan 4 ini telah beroperasi, sedangkan 1 di Desember kemarin dalam masa uji. Kita harapkan dari 16 train set ini sisa dari 11 train set yang lainnya itu akan bisa kami operasikan sebelum bulan Juli tahun 2026 ini," ujar Bobby optimis.
Skema Pendanaan dan Dukungan Penyertaan Modal Negara
Tentu saja, ambisi untuk meremajakan sarana transportasi ini membutuhkan sokongan finansial yang tidak sedikit. Total kebutuhan dana untuk pengadaan sarana perkeretaapian ini menyentuh angka Rp9,18 triliun. Anggaran sebesar itu dirancang berasal dari beberapa sumber pendanaan yang saling melengkapi.
Pemerintah turut hadir melalui instrumen Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan nilai suntikan dana mencapai Rp5,3 triliun. Di sisi lain, PT KAI Commuter juga mengalokasikan kas internal perusahaan sebesar Rp190 miliar. Kekurangan biaya lainnya akan ditutup melalui fasilitas kredit perbankan dengan jangka waktu pengembalian selama 15 tahun senilai Rp3,69 triliun.
Sinergi antara dukungan modal negara dan pembiayaan mandiri ini diharapkan mampu mempercepat masa transisi dari armada tua Jepang menuju era kereta baru yang lebih modern, aman, dan manusiawi bagi jutaan penumpang setianya.